Logo
RUANG INFORMASI PENGUMUMAN UTAMA SEKOLAH
HomeBlogArtikel
Artikel

Guru Dibutuhkan, tetapi Mengapa Banyak yang Enggan Menjadi Guru?

Tayang: Selasa, 14 Juli 2026 pukul 13.59 WIB

Penulis: Edwina Letare | Editor: Ilham

Guru Dibutuhkan, tetapi Mengapa Banyak yang Enggan Menjadi Guru?

Beberapa waktu lalu saya menyadari sesuatu yang cukup menarik. Ketika banyak anak muda mulai merencanakan masa depan mereka, profesi guru ternyata tidak lagi menjadi pilihan yang sering disebutkan. Padahal, hampir setiap orang pernah merasakan betapa besarnya peran seorang guru dalam perjalanan hidupnya. Dari sanalah saya mulai bertanya-tanya, mengapa profesi yang begitu penting justru semakin jarang dipilih?

Menurut saya, bukan karena profesi guru kehilangan makna atau nilai. Sebaliknya, guru tetap menjadi sosok yang memiliki peran besar dalam membentuk karakter, pengetahuan, dan masa depan seseorang. Tidak ada profesi yang lahir tanpa adanya guru. Dokter, insinyur, pengusaha, peneliti, bahkan pemimpin sekalipun pernah belajar dari seorang guru. Hal inilah yang membuat saya merasa bahwa profesi guru sebenarnya memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat.

Namun, kenyataannya tidak sedikit orang yang masih ragu untuk memilih profesi ini. Saya melihat bahwa salah satu penyebabnya adalah cara masyarakat memandang sebuah pekerjaan. Saat ini, keberhasilan sering kali dikaitkan dengan besarnya penghasilan, cepatnya jenjang karier, atau tingginya prestise suatu profesi. Akibatnya, profesi guru terkadang dipandang kurang menarik jika dibandingkan dengan pilihan pekerjaan lainnya. Padahal, jika dipikirkan lebih jauh, guru memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap lahirnya sumber daya manusia yang berkualitas.

Selain itu, menjadi guru juga bukan pekerjaan yang sederhana. Banyak orang hanya melihat guru ketika sedang mengajar di depan kelas. Padahal, pekerjaan mereka tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi. Guru masih harus mempersiapkan materi, menyusun perangkat pembelajaran, menilai hasil belajar peserta didik, memberikan bimbingan, hingga menyelesaikan berbagai tugas administrasi. Menurut saya, tanggung jawab yang besar ini sering kali tidak terlihat oleh masyarakat sehingga profesi guru dianggap lebih ringan daripada kenyataannya.

Faktor kesejahteraan juga menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Memang, berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa masih ada guru yang menghadapi keterbatasan, terutama mereka yang mengajar di daerah tertentu atau belum memiliki status kepegawaian yang tetap. Dalam kondisi seperti itu, saya dapat memahami mengapa sebagian orang lebih memilih profesi lain yang dianggap mampu memberikan kepastian ekonomi yang lebih baik.

Meskipun demikian, saya tidak setuju jika profesi guru dianggap kurang menjanjikan. Bagi saya, menjadi guru bukan sekadar tentang pekerjaan, tetapi juga tentang kesempatan untuk memberikan pengaruh positif bagi kehidupan banyak orang. Seorang guru mungkin tidak selalu mengingat setiap peserta didiknya, tetapi peserta didik sering kali mengingat guru yang pernah memberi semangat, kepercayaan diri, atau mengubah cara mereka memandang masa depan. Pengaruh seperti inilah yang menurut saya tidak mudah diukur dengan materi.

Di sisi lain, saya juga percaya bahwa minat menjadi guru tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Lingkungan, pengalaman selama menempuh pendidikan, serta penghargaan masyarakat terhadap profesi guru juga memiliki peran yang besar. Ketika profesi guru lebih sering dipandang sebagai pekerjaan yang penuh beban daripada profesi yang membanggakan, tentu akan semakin sedikit generasi muda yang tertarik untuk memilihnya. Oleh karena itu, membangun citra positif terhadap profesi guru juga menjadi tanggung jawab bersama.

Menurut saya, solusi dari persoalan ini tidak cukup hanya mengajak generasi muda untuk menjadi guru. Yang lebih penting adalah menciptakan kondisi yang membuat profesi tersebut benar-benar layak untuk dipilih. Guru perlu memperoleh kesempatan untuk terus mengembangkan kompetensinya, mendapatkan kesejahteraan yang memadai, serta didukung dengan lingkungan kerja yang memungkinkan mereka lebih fokus pada proses pembelajaran daripada urusan administratif. Dengan begitu, profesi guru tidak hanya dikenal sebagai profesi yang mulia, tetapi juga profesi yang memberikan kepastian dan penghargaan yang layak.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa masa depan pendidikan sangat bergantung pada kualitas guru yang dimiliki. Jika semakin sedikit orang yang tertarik menjadi guru, tentu hal ini patut menjadi perhatian bersama. Pendidikan yang berkualitas membutuhkan pendidik yang berkualitas, dan pendidik yang berkualitas akan lebih mudah lahir ketika profesinya dihargai, didukung, dan diberikan ruang untuk berkembang. Saya berharap akan semakin banyak generasi muda yang melihat profesi guru bukan sebagai pilihan terakhir, melainkan sebagai pilihan yang membanggakan karena melalui tangan seorang guru, masa depan banyak orang dapat dibentuk.